Minggu, Januari 29, 2017

Media Cetak Tidak Akan Mati



Perkembangan media massa di berbagai Negara seperti Amerika Serikat memang menunjukkan adanya penurunan. Industri media cetak disana gulung tikar karena masyarakat pindah ke media online. Di Amerika Serikat, pengiklan memandang surat kabar untuk mencapai target secara massal dan radio atau majalah untuk konsumen yang lebih tersegmentasi. Sementara koran lokal di Amerika Serikat masing masing merajai di daerah masing masing. Hal inilah yang menyebabkan sulitnya koran nasional untuk masuk karena konsumen di tiap daerah memiliki karakteristik sendiri sendiri.
Model bisnis surat kabar di Indonesia focus pada 2 hal, yakni mengakomodasi apa yang diinginkan pembaca dan memberikan akses pada pengiklan. Namun masih sering terpusat pada masyarakat perkotaan. Daya dukung untuk membeli koran di perkotaan dan pedesaan masih tinggi di perkotaan, masih dapat dijumpai masyarakat pedesaan yang enggan atau tidak mau membaca atau bahkan membeli koran setiap hari. Pertumbuhan ekonomi antar wilayah dalam suatu daerah juga tidak sama, sehingga berdampak pada kemampuan masyarakat untuk mendapatkan surat kabar. Masyarakat yang memiliki daya beli tinggi masih berada di Jakarta dan kota kota di pulau Jawa, sisanya berada di luar Jawa.
Pertumbuhan penduduk di perkotaan lebih pesat dibanding pedesaan. Angka buta huruf di Indonesia tahun 2013 5,86% untuk usia 15+, untuk usia 15-44 di tahun yang sama 1,61%, dan usia 45+ 15,24% (BPS, 2013). Setiap tahun, angka buta huruf semakin menurun, namun penurunan angka buta huruf ini juga diiringi masuknya teknologi baru yang memudahkan masyarakat mengakses informasi melalui internet.
Indonesia Negara berkembang, bukan Negara maju dimana teknologi adalah hal yang biasa. Negara berkembang memiliki potensi besar namun juga memiliki masalah kompleksitas. Tantangannya adalah orang yang masih buta huruf akan lebih memilih media audio visual (televisi) karena hanya butuh mendengar dan melihat atau radio yang bersifat theater of mind. Golongan ini belum mau menyentuh gadget.
Tantangan lain adalah dari jumlah penduduk yang baru saja bisa baca tulis bahwa orang yang sudah bisa baca tulis tidak lantas dengan mudah memahami dan mau menggunakan alat alat teknologi canggih. Mereka tetap butuh suatu kondisi untuk beradaptasi dengan kebiasaan membaca cepat, menganalisis jenis jenis bacaan, serta kemauan untuk membaca itu sendiri.
Perkembangan teknologi memang luar biasa, namun tidak semua penduduk mengikuti gaya hidup yang serba teknologi, karena terbiasa memegang smartphone dan social media akan menguras lebih banyak waktu dan perhatian untuk tahu informasi dan kabar. Koran masih dipilih karena orang dengan mudah akan membolak balik halaman, membaca yang disukai, melipat, atau membuang/menyimpan.
Media yang akan bertahan adalah media yang mampu mengikat rasa memiliki atau kebersamaan dari komunitas. Ketika komunitas diberitakan aktivitasnya atau ada hal hal baru yang bermanfaat untuk komunitasnya, maka media tersebut akan dipilih. Kecenderungan warga di daerah, mereka jenuh dan merasa koran belum mewakili keinginan mereka, atau bahkan porsi pemberitaan daerah mereka kalah dengan ibukota. Konten yang sesuai dan memenuhi kebutuhan masyarakat, membuat masyarakat terdoorng keinginan untuk membaca dan membeli.
Potensi media cetak di luar Jawa lebih prospektif dibanding di Jawa. Hasil riset Nielsen sepanjang tahun 2010-2014 menunjukkan tingkat konsumsi media cetak di lima kota besar luar Jawa seperti Medan, Palembang, Denpasar, Makassar, dan Banjarmasin lebih tinggi dibanding 5 kota besar di Jawa. Lima kota besar tersebut yakni Jakarta, Bodetabek (Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi), Surabaya, Bandung, Semarang, dan Yogyakarta. Nielsen juga mengakui bahwa sampel belum mewakili seluruh populasi Indonesia.
Penetrasi konsumsi koran di Jawa pada 2010 15%, lalu turun menjadi 11% pada tahun 2014. Di luar Jawa, penetrasi koran mengalami peningkatan dari 23% pada 2010 menjadi 26% pada 2014. Ketergantungan internet di Jawa lebih tinggi daripada di luar Jawa. Adanya internet saat ini dimanfaatkan masyarakat untuk mendapat informasi ringan yang gratis, dapat dibaca sekilas, dan tentu saja bisa berupa audio visual. Hal ini berdampak pada penurunan oplah koran. Diprediksikan bahwa koran di Indonesia masih tetap akan bertahan selama 20 tahun ke depan, media yang tetap bertahan adalah yang mengedepankan konten lokal dan mampu memberikan rasa memiliki atau mewakili dari suatu komunitas.
Meskipun koran menurun oplahnya, koran lokal dengan konten yang tepat akan bertahan. Pangsa koran lokal adalah komunitas, semua segmen, dan masyarakat yang tidak mau terkena dampak teknologi. Sebaliknya, anak muda atau usia produktif akan lebih sadar dengan teknologi dan semakin tergantung dengan gadget karena praktis.
Internet tetap dibutuhkan sebagai syarat menjadi Negara maju, meskipun pembangunan sumber daya manusia di Indonesia belum merata, ketimpangan antara di kota besar yang pertumbuhan ekonomi serta ketergantungan teknologi tinggi. Berbeda halnya di desa yang ketergantungan teknologi tidak tinggi namun dari sisi ekonomi ada peningkatan. Pertumbuhan ekonomi yang bagus diimbangi dengan pola konsumsi yang baik termasuk untuk konsumsi informasi.
Bagaimanapun juga industri koran akan bertahan dengan pasar yang lebih segmented, yang dikombinasikan dengan website berbayar, mengikat komunitas, dan memenuhi mereka golongan yang tidak tersentuh teknologi/ tidak mau berurusan dengan teknologi
Sebaliknya golongan usia produktif yang kelak akan memimpin akan semakin memiliki keragaman kebijakan yang tidak meninggalkan koran begitu saja. Dalam beberapa tahun ke depan ketika syarat sebagai Negara maju terpenuhi, masalah dan kompetisi yang dihadapi berbeda dengan sekarang. Indonesia dengan kompleksitas masalah sebagai Negara berkembang tetap mempertahankan budaya yang ada dan tidak lantas begitu saja beralih ke budaya baru dengan hadirnya teknologi terbaru.

Fitri Norhabiba
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Undip, penerima BPPDN Dikti 2013

see full article on http://jurnal.polines.ac.id/jurnal/index.php/ragam/article/view/574

Membuat Paspor Online Semarang



Cukup mudah sebenarnya. Aku aja daftar pake hape android. Buka web dari hape, masukin data data yang standar kok. Nama, nomor ktp, tanggal lahir, pekerjaan, alamat, nama ortu, sama email, sama milih hari mau foto paspor kapan dan dimana. Ada pilihan beberapa hari yang bisa dipilih. Tunggu loading dan cek email. Spri akan mengirimkan file pdf yang harus kita print dan bayarkan di bank sebesar 355 ribu plus admin 5ribu untuk paspor biasa, kalo e paspor 600 ribu kayaknya.
Saat itu aku daftar hari sabtu dan milih foto paspor hari senin. Pertanyaannya adalah, bayarnya gimana? Alhamdulillah BNI di kota besar ada weekend banking. Aku di semarang, kalo di semarang BNI weekendbanking salahs satunya ada di depan ruko dp mall. Sempet khawtair juga kalau setoran nggak masuk, ternyata langsung masuk kok. Oya, layanan paspor online ini 24jam loh, jadi bisa daftar jam berapapun. Habis bayar sama tellernya diberi kode yang harus kita masukkan dalam web untuk verifikasi. Cara gampangnya, buka email dan klik petunjuk yang dibawah, kalo kita belum bayar kita disuruh bayar dulu. Kalo udah bayar, langsung kok di dalam website memberi petunjuk untuk memasukkan 6 kode dari bank.
Setelah selesai, cek email lagi. Kita diwajibkan print file .pdf itu yang berisi identitas kita yang telah kita isi, sambil dibawa ke kanim dan bawa dokumen pelengkap.
Di kanim 1 semarang, luar biasa antriannya. Aku dating jan setengah 8 pagi, antrian sudah mencapai ratusan. Karena kanim 1 nggak Cuma melayani kota semarang saja, tapi juga kota lain. Ada petugas yang akan mengontrol ketika antrian sudah mencapai angka sekian, pemohon dialihkan ke hari lain karena memang tidak memadai waktunya. Banyak banget jamaah umroh yang bikin paspor rombongan. Ketika jam 8 pintu udah dibuka dan antrian mulai dipanggil satu satu. Perlu diketahui, di kanim semarang, semua orang yang akan bikin paspor diberikan antrian dengan kode C. disinilah semua pemohon akan dicek kelengkapan berkasnya. Wasting time menurutku, karena petugas hanya 2 orang, selain itu juga dicampur antara pemohon yang membuat langsung, yang online, dan yang rombongan tadi. Saat dicek juga hanya distaples dan diberi map gratis serta stempel bahwa sudah diperiksa. Kk dan akte atau ijazah asli diperiksa disini. Untuk aku yang udah daftar online, nggak nyampe 3 menit untuk cek berkas, namun nunggu antrian dipanggil bisa 3 jam. Saran aja untuk kanim, kelengkapan berkas sebenarnya bisa dicek saat mengambil antrian, sekalian aja dikasih map bagi yang  sudah lengkap berkasnya.
Setelah dipanggil, kita diberikan nomor antrian lagi untuk foto. Kalau online dikasih antrian kode D, kalo daftar langsung diberi kode A. kode B untuk ibu hamil, anak anak, dan lansia.
Setelah antrian D tiba, saatnya foto. Disini juga akan dicek lagi kelengkapan berkas, foto wajah, sidik jari kayak ektp, dan ditanyai mau kemana dan ngapain ke luar negri. Trus diminta cek lagi udah bener belum, lalu diprint buktinya oleh petugas. Bukti inilah yang akan kita tukar dengan paspor. Petugas akan menstempel hari dan jam kita ambil paspor.
Cukup lama ambilnya, karena memakan waktu 4 hari. Aku bikin hari senin, jadi hari jumat jam 1 siang. Jam 2 siang aku sampe, dan masih nunggu lama juga. Entahlah mengapa lama, karena yang ambil juga nggak banyak banyak banget. Jadi bukti kita dimasukkan dalam tempat yang disediakan dan akan dipanggil satu satu. Setelah dipanggil, kita tanda tangan pada halaman belakang paspor di hadapan petugas, tanda tangan bukti ambil dan sudah paspor sudah dapat dimiliki. Kita juga bisa memberikan feedback pada kanim dengan menekan layar sentuh, apakah pelayanan pembuatan paspor cukup baik, baik, atau kurang baik. Saat mau mencet sih dilihatin petugas, jadi ati ati aja yang mau mencet kurang baik akhirnya nggak enak sendiri.
Jadi apa yang lama? Antri cek berkas. Mau dateng nunggunya juga 2 jam, dateng agak siangan juga sama. Cek berkas sungguh lama. Saran, bawalah laptop untuk menyicil kerjaan kalau memungkinkan. Karena main game hape dalam waktu 3 jam juga bikin baterai habis. Kalau naik kereta bisa tidur, kalau duduk di kursi mau ngapain?

Minggu, November 04, 2012

Potret Kecil Pendidikan Yang Tak Tersentuh di Kota Besar



Kota besar sering dijadikan sebagai salah satu panutan kualitas pendidikan di Indonesia, apalagi jika termasuk salah satu ibukota propinsi. Namun anggapan tersebut tak selamanya benar. Sekolah swasta yang selama ini independent dan dinilai unggul masih juga merasakan pahitnya kualitas kurikulum, guru, dan terutama muridnya.

Banyak murid yang berasal dari keluarga kurang mampu bahkan di garis kemiskinan sering terkena dampak ini. Berbagai alasan klise seperti membantu orangtua bekerja sepulang sekolah dengan menjadi tukang rumput hingga terlambat datang ke sekolah karena harus ke sawah terlebih dahulu. Proses penyerapan informasipun tak dapat maksimal, selain itu mereka juga masih sering bolos sekolah sebagai bagian dari hak yang ingin mereka dapatkan. Padahal mereka memiliki sepeda motor, rajin mengakses internet, dan memiliki telepon genggam. Bukan lingkungan yang terpencil dan jauh dari segala akses, namun berada pada lingkup kota dan bisa dikatakan sebagai sekolah pinggiran.

Hal ini saya alami ketika menggantikan guru yang KKN (kuliah kerja nyata) selama 1,5 bulan si sekolah SMA swasta di Semarang sebagai guru Bahasa Inggris tahun ini. Tanggung jawab yang besar pula ketika murid-murid tidak memiliki LKS (lembar kerja siswa) sebagai buku latihan. Lebih parah lagi, bahkan mereka sebenarnya kurang paham dengan pelajaran Bahasa Inggris sewaktu SMP!

Sedih rasanya melihat masih ada sekolah yang demikian di kota besar. Akhirnya saya mencoba mengkonseling mereka satu persatu, karena jumlah satu kelas tak lebih dari 15 orang. Sebenarnya efektif untuk kelas yang ideal, tapi jika tak ada kemauan untuk belajar dari murid hasilnya kurang maksimal.

Dari konseling yang saya lakukan ditemukan beragam cerita mengapa mereka masuk sekolah tersebut. Alasan pertama karena nilai UAN (ujian akhir nasional) mereka rendah, sehingga tidak cukup masuk sekolah negri. Kalaupun cukup, mereka tidak mampu membayar uang gedung karena tidak tahu penggunaan kartu miskin. Disini jelas terlihat bagaimana ekonomi orangtua mereka, karena siapapun yang beranggapan keluarganya pada kondisi bagaimana adalah benar. Ada beberapa yang mampu, namun tetap memasukkan anaknya di sekolah tersebut karena nilainya.

Hal ini menjadikan saya untuk setidaknya membuat mereka sedikit paham dengan Bahasa Inggris. Tak usah muluk-muluk seperti mengarang, cukup dengan meminta mereka menyebutkan vocab yang mereka tahu. Bahkan saya memancing mereka dengan banyak permainan seperti program Rangking 1 di salah satu stasiun tv swasta. Dengan cara membuat soal pilihan ganda di kertas yang saya jadikan papan, mereka tinggal menjawab pilihan tersebut dan menuliskan jawaban di kertas mereka lalu mengangakat jawaban. Tentu saja setelah sebelumnya saya beri materi.

Metode pengajaran yang selama ini terkesan berjauhan tempat duduk, saya buat melingkar seperti diskusi sehingga semua paham dan tidak malu merespon atau bertanya. Hasilnya cukup efektif, beberapa dari mereka mengakui lebih paham setelah duduk melingkar dalam belajar meskipun ada juga yang pasif dan tidak mau merespon karena takut ditunjuk atau ditanyai apapun. Betapa mental mereka masih perlu didukung.

Saya mencoba mengulangi materi dengan cepat karena sudah menjelang ujian semester. Materi-materi dari buku lain saya fotocopy, sebarkan pada mereka, dan membahas bersama. Respon mereka beragam, ada yang antusias, rajin bertanya, dan apatis. Ketika satu orang mengajak teman sebelahnya untuk tidak memperhatikan akan memengaruhi yang lain untuk melakukan hal yang sama. Ada rasa jengkel dan kecewa, namun saya putuskan untuk fokus pada yang mau belajar, karena saya yakin materi ini akan berguna nantinya.

Hal lain yang membuat mengelus dada adalah kedisiplinan yang mereka terapkan. Masuk pukul 7 namun murid akan penuh hingga hampir pukul 8. Berharap agar semua memahami, namun nihil. Kemudian pada jam pelajaran yang terpotong istirahat selam 15 menit, mereka akan melebihkan hingga 45 menit dan sudah tidak dapat dicegah. Jika jam istirahat diteruskan pelajaran dan waktu istirahat sedikit lebih panjang menjadi 30 menit, berdampak pada jam selanjutnya dan guru pada jam tersebut tidak terima.

Itu tadi adalah cerita untuk kelas sepuluh, sedangakan kelas sebelas lebih rajin untuk mencatat, memperhatikan, dan berpartisipasi, meskipun ada yang kurang paham. Mereka murid kelas sebelas ada kemauan bertanya atau membuka kamus. Bentuk permainan yang saya berikan lebih beragam daripada kelas sepuluh, seperti berkelompok bermain komunikata dan saya yang memberikan kalimatnya, disini bertujuan untuk melatih pronunciation untuk disampaikan kembali dan ditulis di papan.

Namun sungguh sedih ketika ulangan semester berlangsung. Murid-murid banyak yang gambling alias mengarang atau asal jawab, bahkan saling mencontek meskipun yang dijadikan rujukan salah. Pembuat soal adalah dinas pendidikan kota, yang berarti satu SMA di Semarang memiliki tipe soal tunggal. Banyak vocab yang benar-benar asing, karena soal ulangan uptodate. Bagaimana dapat mengerjakan jika selain vocab tidak tahu mereka juga tidak belajar jelang ulangan semester? Lebih menohok lagi ketika saya membacakan contoh soal ulangan yang berisi pendapat bahwa kemiskinan berkorelasi dengan rendahnya pendidikan.

Guru-guru lainpun mengatakan bahwa fenomena ini sudah wajar dan meyakinkan bahwa murid-murid sudah dipastikan remidi semua. Semakin sedih mendengarnya, lalu apa guna materi yang telah diajarkan? Benar saja, memang semua wajib remidi termasuk mata pelajaran lain seperti Bahasa Indonesia dan Matematika.

Jelang pengisian raport, guru-guru tiap mata pelajaran berusaha membuat nilai mereka sesuai standar. Saya putuskan meskipun harus demikian, saya akan membuat mereka paham dengan apa yang mereka kerjakan. Pada sesi remidi, saya bagikan soal dan membacakan tiap murid untuk mengerjakan hanya soal yang salah. Kemudian saya bacakan aturan saya agar mereka mengerjakan sendiri dan saya bacakan terjemahan tiap soal agar mereka lebih memahami dalam Bahasa Indonesianya. Lebih baik demikian daripada remidi namun dengan gambling lagi dan remidi hanya formalitas. Guru-guru sudah pasrah dengan keadaan murid yang demikian, karena motivasi belajar murid yang sangat rendah.

Beberapa hasil tambahan konseling yang saya lakukan bahwa mereka tidak ada satupun yang ingin melanjutkan ke jenjang kuliah, bagi mereka cukuplah sekolah mendapat ijazah lalu membantu orangtua bekerja. Meskipun saya telah memancing jika mereka mendapat beasiswa full. Mereka juga curhat mengenai pengajaran guru lain yang tidak dapat dipahami tapi lebih memilih untuk diam.

Sempat terpikir untuk memberikan mereka semua kamus secara gratis dan menjadi inventaris sekolah, namun saya tangguhkan mengingat sebagian besar tidak ada keinginan untuk membuka apalagi membawa. Satu hal yang belum sempat saya lakukan adalah memberikan psikotes sederhana untuk mengetahui motivasi belajar mereka. Dalam pengamatan, Besarnya pengaruh teman-teman dalam peergroup membuat mereka malas belajar apalagi mengerjakan tugas.

Beruntung mereka tidak tejebak pada pergaulan bebas atau pengaruh obat terlarang dan berurusan dengan kepolisian. Kenakalan mereka masih wajar, yakni membolos dalam satu bulan minimal 5 kali hingga 16 kali dengan alasan malas belajar, malas dengan gurunya, dan berbagai alasan lain.

Saya hanya berharap mahasiswa yang berada di kampus keguruan (background saya bukan keguruan) untuk melakukan PPL (praktek pengalaman lapangan) di sekolah pinggiran, sekolah swasta yang masih diakui atau disamakan, bahkan belum memiliki akreditasi, sekolah dengan fasilitas yang minim karena saya yakin antusiasme mahasiswa masih tinggi untuk membuat perubahan di sekitarnya terutama dalam pengajaran. Treatement terhadap murid ber IQ standar cenderung rendah adalah dengan telaten, perhatian, dan sabar. Saya yakin mahasiswa PPL dapat melakukannya. 

Semoga hal tersebut juga dapat menginspirasi pendidik di sekolah tersebut untuk berbenah dengan apa yang dilakukan mahasiswa PPL nantinya, lebih professional tepatnya. Saya masih berharap mereka layak mendapatkan seperti halnya anak-anak yang sekolahnya menyandang gelar unggulan dari segala sisi.

Beautiful Indonesia



Indonesia have many potential to be developed. All people in the world should visited Indonesia to prove this statement! Tourism in Indonesia is so wonderful and amazing. We shouldn’t going abroad to see the miracle in another country. Indonesia already have it.

There are many tourism that government didn’t care about it. They don’t do intensive activities like promotion and offer facilities that could get it. Not only government but also the society in Indonesia. We can see many people proud after visited tourism abroad, they published their photos, told the unique food, tradition which different with us.

Indonesia also have it. So many ethnic group, many tradition, believes, foods, historied building, language in different province. We could share this uniqueness to other people in the world and make them visited Indonesia like in uncover destination. We also know that tourist only know Bali when they heard Indonesia. Indonesia with richness destination of tourism should be explored by everyone. They must be supported by citizen, government, stakeholder, media, and also we should recommended this in every way.

Another side of country with terrorism issue and disaster area should be interested thing we could promote to everyone. Indonesia is beautiful with their each uniqueness.

Kamis, Oktober 18, 2012

Tenang Saja, Ada Asuransi…!



Judul TayanganHot Spot
Stasiun Penayang: Global TV
Hari/ Tanggal: Senin, 15 Oktober 2012
Waktu: Pukul 9.30 WIB
Durasi : 30 menit (9 menit iklan)
Iklan: Telkomsel, Surprise Global Tv, Partai Nasdem, Asuransi Axa, Lifebuoy, Okezone.Com, Fruit Tea, Kinder Joy, Salonpas, running text advertorial sms chatdengan Bella, join komunitas Andra and The Backbone, dan Treeji
Produser : Erlangga Yanawiza
Semakin rumitnya kebutuhan manusia terhadap gaya hidup memunculkan beragam fasilitas yang kompleks. Sebut saja asuransi yang dulu tidak banyak pangsanya, kini mulai banyak dan bervariasi, dari milik perusahaan khusus asuransi atau perusahaan besar yang memiliki cabang asuransi.
Bentuk asuransi yang umum antara lain asuransi pendidikan dan kesehatan. Masyarakat diharuskan membayar premi perbulan dengan tujuan mendapat jaminan kesehatan atau jaminan pendidikan jika terjadi apa-apa. Namun, apa jadinya jika asuransi kesehatan mulai menyasar pada anggota tubuh?
Tayangan Hot Spot episode ini menyoroti asuransi tubuh yang tentu saja hanya dilakukan oleh artis luar negeri. Fenomena yang dapat menginspirasi artis Indonesia untuk melakukan hal serupa. Artis-artis yang melakukan asuransi tubuh antara lain David Beckham, Cristiano Ronaldo, Mariah Carey, Jenifer Lopez, dan Keith Richards. Tak tanggung-tanggung mereka mengasuransikan anggota tubuhnya untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang menimpa mereka.
David Beckham mengasuransikan kakinya  $ 70 juta (Rp 675,5 miliar), Ronaldo juga mengasuransikan kakinya $ 144 juta (Rp 1,4 triliun). Mariah Carey mengasuransikan tubuhnya $ 1 miliar (Rp 9,7 triliun!), Jenifer Lopez total mengasurnasikan $ 1 miliar, dan Keith Richards, personel band gaek Rolling Stone mengasuransikan tangannya Rp 14,4 miliar.
Lebih dirinci lagi pada artis J-Lo yang mengasuransikan bagian depan serta bagian belakang tubuhnya dan setiap kilogram dari 54,44 kg tubuhnya hingga ia dijuluki boneka 1 miliar dolar! Tentu saja biaya asuransi mereka sebanding dengan pendapatan yang mereka peroleh.
Sungguh aneh tapi nyata, bagaimana kemudian tubuh menjadi komoditas komersial tidak hanya bagi produk-produk kecantikan namun juga produk asuransi. Mereka mengasuransikan tubuhnya karena anggota tubuh itulah yang menjadi kunci penghasilan mereka, jadi jika terjadi kecelakaan berat, misalnya, mereka lebih mudah mendapatkan perawatan agar performa mereka tetap sempurna atau mendapat pengembalian yang berlipat-lipat. Biaya bukan lagi menjadi hambatan karena keuntungan yang didapatkan sebanding dengan apa yang akan didapat, apalagi kalau bukan jaminan “akan baik-baik” saja terhadap tubuh dan uang mereka.
Tayangan tersebut justru dapat mengisnpirasi agen asuransi mengenai perluasan bisnis agar orang semakin ramai mengasuransikan tubuhnya. Mari kita bayangkan jika pekerja-pekerja yang menggunakan sebagian besar tubuhnya untuk bekerja menggunakan asuransi. Wartawan mengasuransikan jari-jarinya, pemain bola voli mengasuransikan tangannya sehingga tidak khawatir jika mengalami cedera, pembantu rumah tangga mengasuransikan tangan dan kakinya untuk mengantisipasi akibat perlakuan kasar majikannya. Lalu berapa biayanya?
Selain menyoroti asuransi tubuh, Hot Spot  mengulas tentang hari hak asasi hewan dan peringatan hari ulang tahun TNI. Hot Spot dapat dikategorikan mirip dengan On The Spot milik Trans7 namun Hot Spot dikombinasikan dengan selingan tips kiriman pemirsa dan laporan lapangan isu terkini. Sumber utama tayangan ini adalah video-video yang diunggah di laman Youtube yang semua orang dapat mengaksesnya, maka jelas dibutuhkan bumbu cerita unik agar pemirsa terus mengikuti.
Segmen utama Hot Spot adalah ibu-ibu atau pemirsa yang memiliki waktu luang pada pagi hari. Iklan-iklan yang mengiringi tayangan tidak banyak, karena jam pagi bukanlah jam prime time sehingga lebih terkesan santai dan tidak serius. Edisi kali ini dapat dikategorikan sebagai ajakan untuk mengikuti asuransi. Namun tentang asuransi tubuh itu bisa jadi menginspirasi ibu-ibu dan pembantu rumah tangga untuk mengasuransikan anggota tubuhnya seperti tangan dan kaki mereka, sehingga ketika tangan atau kaki terluka tetap tenang saja, kan ada asuransi tubuh.. (Fitri Norhabiba)
Kredit Foto:
http://www.globaltv.co.id/program/getImage/programs/722
http://blogliterasi.wordpress.com/2012/10/18/tenang-saja-ada-asuransi/